Lompat ke isi utama

Berita

Ngopi Demokrasi di Kedai Kopi, Bawaslu dan KPU Tanjungpinang Bedah Dinamika Pilkada Langsung dan Tidak Langsung

Diskusi Konsolidasi Demokrasi

Tanjungpinang – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Tanjungpinang melaksanakan Diskusi Konsolidasi Demokrasi berkenaan dengan isu Pilkada Langsung dan Tidak Langsung bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tanjungpinang pada Rabu, 3 Juni 2026. Uniknya, diskusi tersebut tidak dilaksanakan di ruang rapat formal, melainkan di sebuah kedai kopi yang berada di samping Kantor KPU Kota Tanjungpinang. Lokasi tersebut dipilih untuk menciptakan suasana diskusi yang lebih santai, cair, dan terbuka sehingga pertukaran gagasan dapat berlangsung lebih leluasa.

Kegiatan dihadiri oleh Anggota Bawaslu Kota Tanjungpinang, Hendri Safutra, S.Pd.I., M.M., yang didampingi oleh Kepala Subbagian Administrasi Bawaslu Kota Tanjungpinang, Vera Marini Situmeang, S.E. Dari pihak KPU Kota Tanjungpinang hadir Ketua KPU Kota Tanjungpinang, Andri Yudi, yang didampingi oleh Anggota KPU Kota Tanjungpinang, Novira Damayanti. Diskusi difokuskan pada dinamika sistem pemilihan kepala daerah di Indonesia, termasuk berbagai kelebihan, tantangan, dan implikasi dari mekanisme Pilkada langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas demokrasi, partisipasi masyarakat, serta efektivitas penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Hendri Safutra menyampaikan bahwa diskusi mengenai desain sistem demokrasi perlu terus dilakukan sebagai bagian dari pendidikan politik dan penguatan literasi demokrasi masyarakat.

"Perdebatan mengenai Pilkada langsung dan tidak langsung merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Yang terpenting adalah bagaimana sistem yang diterapkan mampu menjamin kedaulatan rakyat, meningkatkan kualitas kepemimpinan daerah, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses demokrasi," ujar Hendri.
Ia juga menambahkan bahwa setiap sistem tentu memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing. Oleh karena itu, ruang-ruang dialog seperti ini penting untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif dan objektif terhadap perkembangan sistem kepemiluan di Indonesia.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Tanjungpinang, Andri Yudi, menilai bahwa pembahasan mengenai Pilkada langsung dan tidak langsung harus dilihat secara utuh dari berbagai aspek, baik dari sisi partisipasi politik, efektivitas penyelenggaraan, maupun kualitas demokrasi yang ingin dibangun.
"Pilkada langsung memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk menentukan pemimpinnya secara langsung. Namun di sisi lain, terdapat tantangan yang harus dikelola bersama, seperti biaya politik, partisipasi pemilih, dan kualitas pendidikan politik masyarakat. Karena itu, diskusi akademik dan kelembagaan seperti ini penting untuk memperkaya perspektif dalam melihat masa depan demokrasi Indonesia," ungkap Andri Yudi.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas berbagai tantangan penyelenggaraan Pilkada, mulai dari politik uang, polarisasi politik, rendahnya partisipasi pemilih, hingga pentingnya pendidikan politik dan literasi demokrasi yang berkelanjutan. Kedua lembaga sepakat bahwa apapun sistem yang diterapkan, penguatan kesadaran politik masyarakat serta pengawasan partisipatif tetap menjadi faktor penting dalam mewujudkan demokrasi yang berkualitas.

Melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi ini, Bawaslu Kota Tanjungpinang dan KPU Kota Tanjungpinang berharap sinergi antarlembaga dapat terus terjaga, sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan dalam memperkuat demokrasi yang partisipatif, transparan, dan berintegritas menuju Pemilu dan Pilkada yang semakin berkualitas di masa mendatang.